Rabu, 20 Juli 2016

Piano Tiles 2

Hahaha... Nyebut merek! Parah!

So, here we are. Di zaman yang game bisa jadi booming banget sampe bikin kecelakaan bahkan kematian.

Tahu lah ya, game yang lagi in. Bikin orang-orang hobi keluar rumah sampe ke pelosok-pelosok cuma buat main game!

Saya bukannya mau maki-maki orang yang main game sampe sebegitunya. Karena saya tahu kok asyiknya main game sampe kadang bikin lupa segalanya. Hohoho.

Ini gara-gara saya main game bareng sepupu saya di game fantasia. Sebut merek lagi, maap. Saya keranjingan main salah satu game mirip-mirip main piano gitu di salah satu booth game. Entah berapa kali saya main di situ. Tapi, mau gimana lagi. Sepertinya cuma itu game yang normal dimainin sama makhluk usia 20-an di tempat macam game fantasia. Meskipun penampakan saya nggak jauh beda sama anak smp di situ. Tapi, tetep aja, ya kali saya main mainan yang terlalu bocah.

Akhirnya, sampe rumah pun gara-gara keasyikan main game mirip piano tersebut, saya bela-belain nyari di playstore.

Yiey, saya pun nemu yang rada mirip. Ya, itu, piano tiles 2. Asyik banget maininnya. Dasar saya juga suka musik klasik meskipun cuma gara-gara ngedengerin ost pride and prejudice, tapi, bahagia banget bisa mainin berlevel-level di piano tiles 2 dan lebih banyak lagi ngedengerin gubahan Mozart, Schubert, Chopin, Beethoven, Bach, dll.

Go try it!

Hohoho 😁 ✌

Semua hal itu ada masa naik dan turunnya. Pas lagi doyan main game, kalo nggak ada kerjaan atau butuh hiburan, ya main game. Tapi, kalo udah bosan dan ngerasa ada hal lain yang lebih penting untuk dikerjakan, ya nggak akan disentuh-sentuh deh aplikasi game itu.

Feeling despair

Tahu sih putus asa itu sesuatu yang dilarang dalam Islam.

But, that's exactly what I am feeling right now.

It's awful, when you feel that your life is stuck. You can't run away anywhere because it will hurt people. So, now, you just live your life even if it feels like you hurt yourself and bleeding out.

And it's more awful because what is happening right now to your life is because your own injudicious decision.

This rueful feeling is not getting me anywhere. So, I just try to live on without feeling. But, how is that possible?!

Jumat, 08 Juli 2016

What is it for?

Tradisi.

Tiap tahun saya menjalani tradisi yang sama. Yang saya ingat, sejak baligh (atau bahkan sebelumnya) saya selalu hadir dalam event rutin yang dipertahankan atas nama (tradisi) silaturrahmi.

Meskipun kadang saya merasa bahwa tradisi tersebut meaningless atau salah arah, tapi apa boleh buat? Saya cuma generasi Y yang bisa menonton dan mengamati saja.

Kalau pun saya protes atau menolak mengikuti tradisi, generasi X sudah siap dengan mata galak dan macam-macam ceramahnya.

Saya bukannya membenci tradisi.

Hanya saja, banyak hal yang perlu dipangkas dan dihindari atas nama kebaikan. Meskipun itu melanggar tradisi.

Tapi, melanggar atau melewati batas tradisi bukan soal yang mudah. Karena kita bisa diancam sanksi sosial saat ini dan sumpah serapah ketakutan atas sanksi masa depan (yang belum tentu terjadi kecuali atas izin Allah).

Bukan salah tradisi memang. Karena tradisi bisa jadi salah satu jalan untuk menyentuh hati agar tersinari hidayah. Salah pelakunya yang kemudian lalai menomorduakan aturan Allah yang hakiki.

-Generasi Y yang cuma bisa mengikuti tradisi. Menjaga diri agar tradisi yang diikuti tetap dalam koridor al quran dan as sunnah. Bila terpaksa atau tak sengaja melewati batas, mohon ampun banyak-banyak pada yang Maha Menciptakan Aturan-