Sabtu, 20 Desember 2014

Ashioto~Be strong by Mr.Children



The day we put on new shoes, we saw the world in a different way with just that

Our footsteps that differ from yesterday’s,

Happily for the first time in a long time, Are heard walking to the neighboring town aimlessly without thought

And we absent mindedly thought, “Man, it’s been a while we’ve done something like this”

Just choosing the paved road and going on to walk

Those are our days but, now we’d like to stop them

That’s how we feel today

The future we dreamed of hasn’t strayed that far from us

We’ll take a step, and another step again, let our footsteps resonate

Sometimes sad nights where there are no lights pass by,  Yeah

But there’s surely someone out there who hears these footsteps

If you’re to tired to walk then cling on to me

The world will keep spinning and surely it’ll bring us in the right direction

Whoever it may be, everyone has a day where the heart seems like it’ll break

Even if they think “I can’t take it anymore”, it’ll be already

They can become stronger

This present generation isn’t that bad

We’ll take a step, and again another step, and retie our shoelaces

We’ll share the joys, we’ll supplement each others weaknesses YEAH

If we can walk through nights drenched by hurricanes

Don’t be scared, don’t falter, you shouldn’t even worry

Don’t get tainted, don’t get distorted, we’ll overcome it

I want to take in every blow directly

The future we dreamed of hasn’t strayed that far from us

We’ll take a step, and another step again, let our footsteps resonate!

Even if rain clouds cover our eyes, Yeah

We’ll look for the sunlight again, and continue walking

Sometimes lonely nights without light come by, Yeah

There’s surely someone out there, listening to the sounds of these footsteps




credit to: http://lyrics.kashigasa.com

Selasa, 16 Desember 2014

Nobunaga Concerto (1)


Bismillah

Sabtu dua pekan yang lalu, saya mengikuti sebuah workshop kepenulisan. Disana, pembicara mengatakan bahwa orang-orang akan lebih mudah menerima tulisan dalam bentuk narasi. Hm, bisa diterima, meskipun itu tidak bisa digeneralisir ya

So, here I am, hahaha.
Saya dikenalkan dengan salah satu cerita sejarah Jepang yang terkenal sekali, yaitu tentang Oda Nobunaga. Suatu kali saya pernah meminjam bukunya dari teman, tapi, saya tidak pernah selesai membacanya. Lalu, teman saya yang lain mengenalkan saya pada J-Drama yang sedang tayang di Jepang sana, dengan judul Nobunaga Concerto. Dari judulnya, saya kira itu drama musikal karena kata Concerto-nya itu lho, menarik ke arah situ. Tapi, sebenarnya intinya lebih ke Nobunaga-nya.

Nobunaga Concerto, membuat saya lebih menikmati sejarah tentang Oda Nobunaga dibandingkan dengan membaca bukunya. Oho. Entah kenapa. Karena Oguri Shun-nya? Wkwkwk. Mungkin. Tapi, yang jelas drama-nya agak jadi fiksi. Karena ada twist, time traveling, dan hal semacamnya.

ada versi anime-nya (eh, atau manga? baru tau -_-)

Episode 1 disuguhkan cerita tentang perebutan kekuasaan klan Oda, antara Nobunaga, anak tertua Nobuhide dan Nobuyuki, adik Nobunaga. Di awal episode juga diceritakan tentang masa sekarang, seorang anak SMA bernama Saburo yang punya kebiasaan lari dari masalah yang tanpa sengaja melintasi waktu dan kembali ke Warring Periode dan bertemu dengan Oda Nobunaga yang asli. Sadar bahwa wajah mereka sama persis, Nobunaga meminta Saburo untuk bertukar tempat dengannya.

Complicated, kocak, dan mengejutkan episode 1 ini. But, obviously, banyak pelajaran yang bisa diambil dari apa yang dilakukan Nobunaga-Saburo (ini maksudnya Saburo yang menggantikan tempat Oda Nobunaga).

Nobunaga-Saburo akhirnya mengambil keputusan untuk mewarisi kepemimpinan klan Oda setelah Nobuhide meninggal, meskipun dia tidak yakin dengan kemampuannya, tapi, dia tidak ingin terus-terusan dicap sebagai orang yang suka melarikan diri dari masalah.

Kepolosan Nobunaga-Saburo dalam memandang masalah. Orang-orang menganggapnya naif, tapi, ternyata kebaikan yang dia berikan dibalas kebaikan pula. Itu terjadi saat Nobunaga-Saburo memberikan secara cuma-cuma daerah dalam kekuasaan klan Oda kepada lawan politik ayahnya. Semua orang menganggap itu sebagai blunder, tapi, saat keadaan Nobunaga-Saburo terjepit menghadapi pasukan pemberontakan Nobuyuki, lawan politik ayahnya itu datang membantu.

Meskipun, masih nggak ngerti dan nggak habis pikir sama kebiasaan saat itu yang menganggap bahwa Seppuku (membunuh diri sendiri dengan menusuk perut) adalah cara mati yang terhormat. Nggak ngerti banget -_-

Kocak juga di zaman dahulu kala, si Nobunaga-Saburo pake sneakers dan jumper sementara yang lainnya pake kimono (eh, kalo buat cowok namanya kimono juga?) gitu. Hahaha.

Oguri Shun!!! Meskipun udah keliatan tua-nya, akting-nya tetep keren >.< meskipun agak aneh ngeliat dia pake seragam SMA. Terus yang jadi Kichou itu, yang main bareng Keanu Reeves di 47 Ronin.

Seru lah pokoknya.
Membuat cerita sejarah jadi sangat menarik. Haha. Atau emang dasar lagi suka nonton daripada baca.

O ya, dan gara-gara Nobunaga Concerto, saya jadi suka sama pengisi ending OST nya, Mr. Children. Band rock Jepang yang keren suara, lagu, dan liriknya >.<.

bapak-bapak mr.children :)

 Credit to: mein.tv, crunchyroll.com, aramajapan.com          

Senin, 01 Desember 2014

Love conquers all


Bismillah.

Kka-geum ngga jadi berangkat ke Spanyol karena mengkhawatirkan Go Dok Mi. And ngga berhenti di rasa khawatir itu, they love each other, they have relationship, and finally they live happily forever and ever. Yeah, like usual drama.

Hahaha...oke, itu cuplikan drama flower boy next door, drama 2013nya Park Shin Hye yang nge-hits. Efek visualnya keren kata aku meskipun ditayangin di chanel tv kabelnya korea, Tvn. Lucu, keren, beda.

Hm, but that's not my point.

Love, itu jadi topik banyak drama. Buanyak banget drama. Gimanapun twistnya suatu drama, akarnya tetap tentang cinta. Why?
Why?
Why?

You love him/her and you will do anything for him/her. Anything.
Kadang saya ngga percaya kalau itu bisa terjadi. Tapi, nyatanya, hal itu benar terjadi di sekitar saya. Even he/she is not someone that bloodly related to you.


And here, I share you about one love yang ustadz Rahmat Abdullah sampaikan dalam tausiyahnya,
 
Dakwah adalah cinta.
Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu.
Sampai pikiranmu.
Sampai perhatianmu.
Berjalan, duduk, dan tidurmu.
Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai.

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.
Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.
Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.

Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.
Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman.
Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang…
“ Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”


Keren kan? Hehehe. I think so.
Daya cinta yang luar biasa. Sampai bisa menggerakkan bahkan kadang tanpa kita tahu apa alasannya.

And that's it, I want to make it clear, cinta yang ingin saya rasakan. Cinta pada perintah Allah swt yang saya rela mengorbankan apapun demi melaksanakannya.
And I know that I'm just a tiny little weak human being, yang terlalu sering lalai dan khilaf. Semoga Allah 'azza wa jalla senantiasa menjaga rasa cinta ini pada ketaatan kepada-Nya.

Credit to: http://mutiarahationline.wordpress.com/2011/01/05/dakwah-adalah-cinta/