Rabu, 29 Juli 2015

Apa yang kamu harapkan

Bismillah.

Life is unexpected. Tapi kadang expexted juga sih. Seru lho hidup itu (lagi sholehah). Bersyukur banget masih dikasih hidup sama Allah. Seru pointnya adalah kalo lagi menjalani fase kehidupan yang sifatnya rutinitas banget, suka playing a game (ampun ya Allah), nebak-nebak gitu apa yang bakal terjadi.

Suatu hari karena emang lagi saat kumat maagnya, perut saya melilit dengan sangat. Sakit banget sampe kepikiran, "kayaknya gue bakal mati deh". Ngebayangin saat itu harus desek-desekkan naik krl untuk sampai di rumah, mau pingsan aja rasanya. Tapi, eng ing eng, ada krl dari manggarai yang langsung balik ke bogor. Seneng bin bersyukur. Krlnya sepi dan saya bisa duduk. Phiuh...Allah Maha Baik.

Hari yang lain, saat nunggu krl pagi, emang biasanya krl pagi itu penuh. Terus saya mikir, oke, ini opsinya,
a. Berdiri didepan yang pada duduk dan itu pegel dan mupeng banget ngeliat yang duduk
b. Berdiri di bagian yang paling depan deket pintu masuk dan sesak nafas karena kegencet-gencet
c. Berdiri di deket pintu masuk kiri yang lumayan nyaman, tapi, kudu rebutan dan saya malas kalo harus rebutan sama ibu-ibu
d. Pasrah aja deh
Eng ing eng, krl yang datang ternyata sepi dan saya dapat tempat duduk. Yuhuuu. Alhamdulillah. Allah Maha Baik.

Sayang banget sama Allah karena Dia pasti ngasih pertolongan di saat genting.

Meskipun kadang diuji supaya sabar, ya, itu emang tugas seorang hamba, kan. Berencana dalam hidup, berdo'a minta sama Allah, serta bersenang dan bersabar hati menerima apa yang Allah gariskan buat hidup kita.

Kalo bisa kayak gitu, hidup itu bakal nyaman banget.

Dan cinta tulus pada Allah nggak akan berkurang karena ujian dan musibah yang datang pada kita.

Idealnya seperti itu. Tapi, ya, maafin hambaMu yang masih suka ble'e karena suka bandel T.T

Minggu, 19 Juli 2015

Becoming an old and having a big family

Bismillah.

Saya berharap tulisan ini tidak saya tulis dalam kondisi yang tidak baik. Secara pikiran maupun secara emosional.

Yep, bertepatan dengan momentum hari raya idul fitri, berkumpul dengan keluarga adalah hal yang lumrah atau malah bagi beberapa orang termasuk keluarga saya menjadi hal WAJIB.

Yang ingin saya soroti di tulisan ini adalah pandangan dari kacamata saya tentang kumpul keluarga ini.

Tentu saat berkumpul dengan keluarga ada hal baik yang dibawa yaitu kebahagiaan dan keceriaan. Tapi tak jarang, ada juga yang membawa kesedihan dan cerita duka. Yeah, everybody has its own story.

Pun keluarga saya, ada bahagianya, dukanya juga nggak sedikit.

Hal yang pengen saya share adalah MENJADI ANAK MUDA ITU NGGAK GAMPANG. Maafkan ya kalo kesannya negatif banget. Tapi, plis maklumi, saya hanya ingin menuangkan pikiran saya.

Kenapa nggak mudah?

Karena kita harus patuh dan taat pada apa kata orangtua. Tahu sendiri, ridha Allah ada pada ridha mereka. Kesusahan mereka membesarkan kita di masa lalu, buat saya sih, unimaginable. Belum lagi buat yang belum mandiri secara finansial. Darah, keringat, dan air mata, yang mereka cucurkan untuk menghidupi kita.

Letak ketidakmudahannya adalah ketika apa yang mereka perintahkan atau atur itu cenderung otoriter, nggak sesuai dengan pemikiran kita, nggak fleksibel, dan lain sebagainya. Saya sih merasa begitu. Apalagi menghadapi old people yang rempong dengan tetek bengek. Oh, my, harus punya stock sabar banyak-banyak. Emang amat sangat nggak mudah. Karena menurut saya, kita 'berhutang' pada mereka. Dan nggak ada jalan lain buat kita yang young people selain bear with that. Kalo memang terasa nyesek dan kesel, saya sarankan lebih baik diam dan menghindar, daripada menimbulkan hal yang nggak diinginkan. Intinya, apapun yang old people lakukan kita harus patuh selama nggak bertentangan dengan syari'at.

Pun juga...MENJADI ORANGTUA JUGA TIDAK MUDAH. Kita punya kewajiban dan tanggungjawab pada anak-anak kita. Menghidupi mereka dan lain sebagainya. Sayang sekali, referensi saya masih sedikit, karena saya belum fully merasakannya. Hehehe.

Buat mereka yang old people banget, pasti membutuhkan tenaga anak muda untuk membantu. Tapi ya, itu, jengkel kalo ngadepin anak muda yang nggak mau ngedenger apa kata orangtua atau suka membantah dan membangkang.

So, what should we do?

Hahaha...gampangnya sih...sikapi tiap fase kehidupan dengan Iman!

Klise banget memang. Tapi buat saya itu menjadi jalan keluar yang jitu.

Kadang kalo saya melihat masalah disekitar orangtua, saya jadi trauma sendiri.

Misal masalah saudara saya, saudari x yang bercerai de el el. Bikin saya mikir, oh, my, punya keluarga itu rada bla bla bla. Jadi khawatir sendiri deh untuk menghadapi fase itu.

Nah, disitu pentingnya iman, takwa, dan kedekatan dengan Allah. Kalo kita nggak punya itu, eh, maksudnya saya, mungkin saya bakal.... hahaha...rahasia lah...

Tapi, dengan adanya bekal kedekatan dengan Allah, kita tahu, bahwa semua manusia pasti punya masalah dan ujian masing-masing. Kita juga punya cara sendiri-sendiri untuk menghadapinya, tapi, kita sebagai umat Islam punya koridor, yaitu jangan sampai melanggar syari'at dan yakinlah bahwa Allah selalu setia bersama kita, Dia nggak akan pergi meninggalkan kita seperti manusia yang lain.

Hahaha...itu saja sih yang ingin saya bagi. Semoga bermanfaat dan nggak bikin pusing.

Kamis, 16 April 2015

The Shawsank Redemption: Freedom Ain’t Free

Bismillah...

Sinopsis
Tahanan penjara Shawsank nomor 37927 bernama Andrew ‘Andy’ Dufresne, seorang bankir yang ditahan karena kasus pembunuhan atas istrinya. Andy menghabiskan waktu penahanan seumur hidupnya sibuk ‘mengukir’ batu sebagai hobinya. Dia menjadi favorit orang-orang di penjara mulai dari kepala penjara, sipir, hingga teman-teman tahanan. Salah satunya bernama Ellis Boyd Redding aka Red diperankan oleh Morgan Freeman yang juga menjadi narator sepanjang film ini.

Andy yang cerdas membawa nuansa baru di penjara Shawsank, selain menjadi akuntan pribadi kepala penjara, Andy yang tadinya bekerja di tempat laundry berubah menjadi seorang pustakawan, disana dia memberikan jasa akuntan kepada hampir seluruh pegawai di penjara dan karena usahanya bertahun-tahun memberikan surat pada Senat pemerintahan setempat, Andy berhasil mendapatkan dana untuk membangun perpustakaan di penjara Shawsank dan membuatnya menjadi perpustakaan penjara terbaik di New England.


Red and the genk saat menyambut kedatangan Andy
Perkenalannya dengan seorang tahanan muda bernama Tommy Williams pada tahun 1965 mengungkapkan fakta menyakitkan bahwa benar adanya bahwa bukan Andy yang membunuh istri dan kekasihnya. Sesuatu yang disangkalnya jauh hari saat di persidangan, saat sudah masuk Shawsank, dan bahkan malah dijadikan candaan oleh Red dkk kalau seisi tahanan Shawsank pasti akan menyangkal bahwa yang menjadi sebab mereka ditahan adalah sebuah kejahatan. Sayangnya, Andy tidak bisa membuktikan apapun untuk menghapus kejadian ‘salah tangkap’ itu karena saksi kunci tewas dengan keji.

Hobi Andy ‘mengukir’ batu seperti yang saya sebutkan di atas menjadi salah satu kunci akhir yang bahagia film ini.

Komentar
The actor, crew, and official
9.3 itu rating IMDB untuk film ini. Sepertinya menjadi rating tertinggi film sepanjang masa. Tapi, saya tertarik menonton film ini karena obrolan rame di grup whatsapp kelas, yang memuji-muji bagus dan how genious this film was. Dan memang benar. Filmnya jenius, begitupun aktornya. Kabarnya film ini terinspirasi atau adaptasi dari cerita pendek karya Stephen King. Film bergenre crime dan berbau kehidupan penjara yang bakal menjadi favorit saya setelah (atau bakal menjadi sebelum) Prison Break.

Tim Robbins yang memerankan Andy sedari awal masuk Shawsank sudah menarik perhatian karena wow, dia tinggi banget, meskipun wajah nge-blank-nya itu lho agak bikin dia terlihat sok. Yah, meskipun begitu, cara Andy menghabiskan waktu di Shawsank itu luar biasa. Benar-benar jadi orang bermanfaat di Shawsank dengan otak cerdasnya.

Andy Dufresne
Hal yang membuat miris di film ini adalah bagian betapa kejinya hidup di penjara itu. Harus seperti itu mungkin, supaya menimbulkan efek jera dan enggan masyarakat untuk berbuat kejahatan. Tapi, yang tertangkap mata saya adalah udah ngga manusiawi saat Andy mendapati ada belatung di nasi yang akan dia makan, perlakuan saat dia pertama kali tiba di Shawsank, dan betapa korup dan jahatnya pejabat di penjara itu kalau sudah berhubungan dengan uang. Hm, entah bagaimana kalau di penjara Indonesia, mungkin ngga lebih baik dari Shawsank –penjara di tahun 1950-1960an (how negative, za!). Tapi, kalau masalah makanan, ada sih kakak kelas yang bahas di skripsinya mengenai kualitas gizi termasuk makanan di rutan, dan itu menyedihkan, hm, ngga tau ya, sampe se-drama ada belatungnya kayak yang Andy alami atau ngga. Hal yang lainnya adalah saat Brooks (salah satu teman Andy) yang sudah masuk Shawsank sejak tahun 1905 akhirnya bebas bersyarat, tapi, karena dia sudah amat sangat terbiasa dengan rutinitas hidup di Shawsank dan saat kembali ke masyarakat, dia tidak bisa beradaptasi lagi, kayak, what’s the point gitu hidup kayak gini, dan berakhir dengan gantung diri. Menyedihkan. Banget.

Ini suasana kalau pagi di Shawsank saat dilakukan penghitungan jumlah tahanan
Film dengan rating 9.3 tentu tidak mengecewakan. Banyak hikmah yang bisa diambil. Kalau untuk saya pribadi, cara Andy memandang hidupnya di Shawsank, memposisikan dirinya sehingga bisa bermanfaat, itu poin yang paling menarik.

Brotherhood Andy dan Red juga menjadi bagian yang sweet, cute, dan menyentuh. Hahaha.

Andy yang menghabiskan waktu puluhan tahun untuk bisa membobol batu yang menyusun penjara Shawsank, membuat saya berpikir lagi tentang arti ketekunan dan bersabar dalam proses kehidupan kita. Sedih, geli, sekaligus kagum, saat Andy udah berhasil membobol tembok kamarnya, dia masih harus berjuang melewati gorong-gorong dan septi tank (ini bener ngga ya ejaannya) sepanjang lima kali lapangan football=457 meter yang dia lewati pake muntah-muntah dan setelah itu dia baru bisa menikmati kebebasan.

Sangat penting untuk punya harapan dan motivasi. Saya setuju dengan Andy bahwa harapan yang dia punya adalah hal terbaik selama dia berada di penjara. Pun setelah bebas, Andy tetap punya motivasi, bagaimana dia mau menghabiskan hidupnya. Dua hal itu, harapan dan motivasi, membuat kebebasan menjadi berarti. Kalau ngga menemukan itu, ya, sangat terbuka peluang untuk end up seperti Brooks. Itu yang hampir terjadi pada Red setelah 40 tahun akhirnya dia bebas dari Shawsank, dia bahkan masih membawa kebiasaan dia untuk izin setiap mau bak. Frustasi. Tapi, berakhir dengan senyuman lebar saat Red bisa melihat birunya samudera pasifik bareng Andy. Hahaha. Maaf ya, jadi banyak spoiler ^^v. Jenius dan menginspirasi, dua kata buat film ini >.<

Semoga bermanfaat ya :D dan happy watching (buat yang tergoda untuk nonton, wkwkwk ^^v)