Selasa, 31 Maret 2015

Bicara soal film Indonesia


Bismillah.

Yesterday...

Tanggal 30 Maret 2015. Nothing special sebenarnya. Hanya, teringat salah satu tayangan di salah satu stasiun televisi nasional yang membahas tentang perfilman nasional dalam rangka mendekati hari film nasional RI.

Pembahasan yang menarik karena sebagai orang yang suka nonton film, mendengar pembicaraan mengenai film dari balik layar dan dari point of view seorang sutradara, produser, pemain film, exhibitor, dan lain-lain, that's really something...that can make my heart beat faster than normal. Aaakkk...



Meskipun pembahasannya mengenai masalah yang klasik (eh?). Seperti, mengapa penonton film Indonesia jumlahnya sedikit? Yeah...
Dari tayangan tersebut disimpulkan ada beberapa sebabnya, which is?

Film Indonesia itu...ceritanya masih begitu-begitu aja.
Hm, setuju, ceritanya begitu doang dan dikemas seadanya. Padahal kalau cerita dalam suatu film itu sederhana tapi dikerjakan dengan niat yang menggelora dan punya idealisme yang kuat, I think it can be huge!

Sebab selanjutnya adalah dari aspek penonton yang...kurang nasionalis (?). Karena kata 'mereka', film luar itu lebih bagus dari film Indonesia. Hehehe, kurang lebih setuju. Meskipun ngga bisa dipukul rata premis tersebut, karena harus pilih-pilih film luar dengan genre dan topik apa dulu nih...

Dan kalo bicara soal nasionalis, kurang setujunya ada di poin, kalau film Indonesia yang diputer di bioskop itu memang punya ide cerita yang bagus dan ngga 'aneh-aneh', saya happy happy saja menontonnya.

Yiey...saya masih bisa dibilang nasionalis kan? Waktu itu saya memilih nonton Pendekar Tongkat Emas kok dibandingkan The Hobbit, ahahaha...

Selain ide cerita, saya sebagai penonton film, juga sangat dipengaruhi oleh pemain filmnya! Hahaha. Ngga melulu karena tampang, kalau aktingnya keren, ya, keren aja. Kalau menurut saya pribadi, insting pemain film ketika memilih film yang akan diperankannya menjadi salah satu faktor either film itu bakal bagus atau ngga. Jadi, kalau film Indonesia yang akan saya tonton yang berperan adalah Mr. Saputra atau Mrs. Hasiholan atau siapa lagi ya...(aaak...ketahuan bukan fans film Indonesia nih) saya lebih optimis akan keluar dari bioskop dengan antusias karena satisfied dengan film yang sudah saya tonton.



Dan ketika membicarakan film nasional yang masih terpuruk, ada banyak sebab, yang mungkin bisa berkaitan dengan poin yang sudah saya sebutkan diatas, dan yang lain misalnya, dukungan pemerintah. Eng ing eng...

Kalau kata Mr. Dewanto, dia memberi contoh, saat dia sedang di Korea untuk mengerjakan sebuah film di suatu gedung area publik milik pemerintah, pemerintah setempat tidak akan memberikan charge alias free saat kru film akan mengambil adegan di tempat tersebut. Bandingkan dengan Indonesia yang malah sebaliknya akan menaikkan harganya. Itu bentuk dukungan kecil.

Bentuk dukungan pemerintah yang lain adalah dana alias investasi. Kalau pemerintah benar-benar punya tekad, lewat film, kita bisa membuat kaya negeri kita. Kita bisa menyalurkan nilai-nilai dan ideologi kebaikan. Pun sebaliknya.

Mungkin 'cuma' film, tapi, itu industri yang besar yang perputaran uangnya...aaakkkk...dan bisa jadi alat propaganda yang ampuh!

So, saya sih berharap, penguasa dunia perfilman nasional itu orang-orang yang memang punya kecintaan -ngga cuma soal uang (yeah, meskipun uang is hugething) -karena dampak film itu sedikit banyak bisa mengguncang isi otak seseorang- tapi juga punya niat untuk menanamkan nilai dan hm, menghibur.

Okeee...ini sekedar pendapat saya yang bukan siapa-siapa yang suka (kok) dengan film Indonesia (yang keren). ^^v

Fin.

(Trivia) Hasil obrolan saya dan teman saya Miss F tentang film Indonesia yang keren...
1. AADC
2. Ayat-ayat cinta

3. 99 cahaya di langit Eropa
4. Habibie-Ainun
5. Nagabonar
6. 5 cm
Tidaaak..."apa ya?" adalah kata yang kami berdua sering ucapkan ketika membuat list yang tidak panjang ini...T.T mungkin saya benar kurang nasionalis (?)

Senin, 23 Maret 2015

S.E.S

Bismillah.

Harusnya ngga boleh merasa lelah. Tapi bagaimana kalau merasa jenuh?
Jenuh dengan diri ini, trying hard not to complaining...karena apapun yang terjadi LEBIH BANYAK hal yang harus dan patut disyukuri.

Mau bagaimana? Nggak akan bisa berpindah ke step yang lain kecuali step ini beres lebih dulu...
Kayak ada rantai yang mengikat...sebenarnya ngga begitu kencang tapi tetap aja it's really suffocating. Suffocating. Suffocating.

Tapi bukannya ngga bisa diselesaikan. Cuma butuh effort dan sacrifice LEBIH untuk lepas dari semua ini.

Allah hold my hand T.T

Senin, 16 Februari 2015

Meet Up! and Bogor Culinary Tiny Story


Bismillah.

Dulu kala, sewaktu masih exchange di Viet nam, kami bertemu dengan seorang kakak yang baik banget, hehe. Kami sempat jalan-jalan bareng ke Kamboja. And? Waktu itu kami berjanji untuk ketemuan dan jalan-jalan lagi sewaktu sudah pulang ke Indonesia.

Jadilah, kami janjian untuk ketemu di tanggal 15 Februari kemarin >.<
Aaakkk, seneng deh ketemu lagi. Kakak tersebut berkata, kita berlima tambah kurus, hua...hua...

Meeting point kami adalah di depan stasiun Bogor. Selanjutnya ke?
Huahaha...sebenarnya kita belum tau mau kemana saat itu, tapi, karena kakak tersebut laper, jadilah kita ke daerah yang terkenal dengan kulinernya.

Kata Mr. N, daerah kuliner di Bogor terbagi menjadi beberapa tempat, ada Surya Kencana, Bangbarung, Taman Kencana, dan satu lagi aku lupa karena Miss Q yang ingat.
Yang kami kunjungi pertama kali adalah Surya Kencana alias Surken.

Disana kami mencoba laksa, toge goreng, bihun goreng, dan combro.
Menurut saya, laksanya enak banget >.< combronya juga >.< padahal jarang-jarang saya suka combro, karena saya nggak begitu suka dengan oncomnya. Toge gorengnya ya seperti itu saja, karena saya nggak terlalu suka makanan yang asam. Begitu juga dengan bihunnya.

Kalau belum tahu laksa itu makanan macam apa, coba search di search engine saja ya, hehe. Tapi, persamaan dari laksa dan toge goreng adalah sama-sama makanan dengan bahan dasar toge!
Harga masing-masing 12k, 12k, lupa nanya ke Miss Q, dan 2k. Murah kan? I think so :)

Jadi Surken ini adalah nama jalan, nah, sepanjang jalan itulah isinya kuliner khas Bogor semua. Murah meriah, seperti kata Mr. N. Cuma, Miss Q berkata harus hati-hati kalau cari kuliner disitu, karena termasuk kawasan Chinese yang menjual makanan haram juga macam yang mengandung babi.

Destinasi selanjutnya setelah Surken adalah Taken alias Taman Kencana. Kami pergi kesana karena saya nagging ke mereka, hahaha, malu banget karena saya juga belum pernah pergi kesana.

Sebenarnya disana terdapat tempat makan yang murah meriah, tapi, kami akhirnya terdampar di tempat makan yang didesain creepy bin horror bernama DBC alias Death by Chocolate. Saya nggak terlalu merekomendasikan tempat ini karena muahal ^^v
Tapi, seperti namanya, menu coklatnya emang bikin death banget. Satu sendok teh aja udah bikin enek (ini ejaannya bener ngga ya).
in front of DBC

Kami mampir ke Taman Kencana yang begitu, hehehe ^^`

Karena Mr. N berhasil membuat kami semua jalan kaki jauh -lebih dari yang biasa saya lakukan-, akhirnya kami mencari tempat buat ngadem yang lain dan nggak bukan adalah mall nya IPB, Botani Square. Kami menghabiskan sesorean disana dan pulang ba'da maghrib.

Dan akhirnya kami pulang setelah sebelumnya melewati jembatan penyeberangan bawah tanah.

Seneng sekali bisa jalan-jalan lagi bareng mereka. Dan melakukan first time thing yang belum pernah saya lakukan di Bogor, hahaha, malu banget. Thanks to Miss Q deh yang tau banget kuliner spot di Bogor, emang jago jalan-jalan banget deh dia. Nggak di Indonesia, di Viet nam, di Kamboja, dia selalu yang jadi peta kami berlima. Meskipun kami suka jadi nyebelin banget kalo bilang 'terserah'.

Ngobrol-ngobrol bareng mereka yang nge-refresh saya supaya lebih open minded, jadi kenangan tersendiri buat saya. Dan melihat kota Bogor yang bakal keren kalo jadi lebih bersih dan lebih tertib.

shaking selfie di jembatan bawah tanah :)
Ah, dan satu lagi, karena kakak itu, saya jadi tau soal bagaimana memperlakukan anak jalanan. Kakak itu aktif di Sahabat Anak, salah satu komunitas yang mengajar anak-anak marjinal. Salah satu petuah kakak itu adalah kalau ketemu sama anak kecil yang meminta-minta, mending jangan dikasih uang tunai, karena kadang uang yang kita kasih itu bukan untuk mereka, ada juga yang malah digunakan untuk membeli barang-barang yang nggak baik. Kalau kalian lagi makan saat anak-anak itu meminta-minta, ajakin makan aja.

Eng ing eng, pas kami lagi makan, beneran ada anak yang meminta-minta. Saat sampai di meja kami, diajaklah mereka itu oleh kakak kami untuk ikutan makan, awalnya mereka nolak, tapi, akhirnya mereka meng-iyakan dan mengajak teman-temannya yang lain. Lucu sekaligus bikin kasihan deh mereka ini.
thanks a lot kakak :)
Yeah, Indonesia ku, belum beres dengan masalah merawat orang-orang yang kurang beruntung dan harus berjuang sendiri di jalanan yang keras.

Ah, bisa apa aku?
T.T

(Oh ya, maaf atas keterbatasan foto, hehehe, biasanya credit fotonya ke @cocaqori :)